Barangkali, semesta bukan hanya tentang terus berjalan lurus, tetapi juga tentang terus berusaha hidup.
Mereka tumbuh di atas tanah yang mendarah, bercucur peluh dan usaha demi bisa mekar dengan indah. Dari nama-nama yang tiap malam menggema doa kepada Sang Maha Kuasa. Di persada yang menjadi tumpuan miliaran tapak kaki, banyak dari mereka yang datang dan pergi membawa kisahnya masing-masing. Barangkali, seperti cinta yang tak sempat menjadi rumah, perpisahan tanpa selamat tinggal di tengah malam, rindu yang memilih bungkam, terpendam di dada, atau luka yang perlahan menjelma menjadi pelajaran penuh makna. Sebagian dari mereka terlahir kembali menjelma sebagai prosa; sebagian lainnya menjelma menjadi bisikan lirih di antara bait-bait puisi.
Antologi ini menghimpun semuanya menjadi satu, tentang mereka yang pernah patah, pernah tersesat, pernah kehilangan arah, tetapi selalu bisa menyisakan secercah cahaya untuk dipercaya.


